Cerita Seks dengan teman kerja pabrik

Ads

penisvimax

Cerita Seks dengan teman kerja pabrik – Cerita seks terbaru di 2016 dan masih fresh silahkan baca2 dan share ke teman kalian.

Telah jadi rahasia umum bahwa pergaulan pabrik dalam factor seks lebih berani daripada ‘anak gaul’ di perkotaan. Saya sbg pengawas kadang-kadang mau pula menikmati keringat anak buahku yg tak kenal parfum. Cuma saja saya kuatir tak bakal bertindak adil pada semua karyawan/ti, seandainya saja perhatian & penilaianku bukan berdasarkan tugas malah berdasarkan dapat atau tidaknya ‘dipakai’.

Lagian saya tak ingin diperlukan oleh bawahanku cuma sebab mencicipi kenikmatan sesaat. Menjadi saya cuma akan menonton pergaulan anak buahku yg biasanya berani. Di depan umum saja seenaknya main-main tepuk pantat karyawati yg bahenol, macam mana apabila di ruangan tersembunyi? Entah, telah sekian banyak pasang anak buahku yg menikah sebab ‘kecelakaan’, & entah telah berapa pasang yg disidang oleh security dikarenakan tertangkap ‘mojok’.

Namun dari sekian ratus karyawati ada seseorang yg jadi primadona, namanya sebut saja Linda (nama samaran). Belum lama menjadi karyawati, sempat berkerja sbg kasir di NAGA swalayan, pendidikannya termasuk juga cukup buat ukuran buruh adalah SMEA, wajahnya sepintas serupa Iis Dahlia penyanyi dangdut kenamaan (Kenal nggak..?).

Pokoknya jelita, hidungnya mancung, bibirnya sensual & berkumis halus. Alis matanya tebal rapih tidak dengan cukuran, rambutnya hitam sebahu, kulitnya putih mulus, dadanya perkiraanku 36B. Hanya tapi sayang pantatnya kurang bahenol, biarpun pinggangnya ramping, namun justru berdasarkan pengalamanku pantat yg model begini yg bakal memberikan kepuasan maksimal dalam persetubuhan. Rata-rata yg pantatnya bahenol hanya enak di lihat tetapi kurang sip utk dinikmati.

Linda orangnya tak angkuh & enteng bergaul dgn siapa saja, murah senyum, & nampaknya ‘jinak’. Gaya bicaranya seperti menggoda. Saya sendiri sesudah berpikir panjang hasilnya membawa ketentuan buat mendekatinya. Pendekatan perdana kala jam istirahat.

Kebetulan ia sedang makan di kantin, & cuma ada sekian banyak orang saja yg makan di situ (barangkali harganya mahal, maka sebahagian gede karyawan/ti makannya diluar pabrik).

“Mari makan, Pak..!” Linda cepat berbasa-basi dikala saya datang.
“Terima kasih..,” saya menjawab tawarannya & cepat memesan makanan & minuman.

Kami terlibat dalam obrolan yg mengasyikan hingga tidak terasa jam istirahat berhenti. Saya membayarkan seluruh makanan termasuk juga rekan-rekan Linda (yg begini saya telah biasa, menjadi kawan-kawan Linda tidak curiga sedikitpun bahwa saya ada tujuan tertentu).

Nyata-nyatanya makan siang itu merupakan awal dari segalanya. Saya menjadi tidak jarang ‘sengaja’ makan siang di kantin agar bakal memandang wajahnya yg kece. & terhadap jumpa yg kesekian kalinya saya cobalah mengajaknya makan diluar. Nyatanya ia ok saja, bahkan disaat saya tawarkan utk menjemput di rumahnya, beliau malah tak akan, & minta dijemput di ruang yg dirinya menentukan. Wah, saya sih tambah gemar menjadi tak ‘terikat’.

Sore itu sepulang jam kerja, saya menemuinya di area yg sudah dijanjikan. Nyata-nyatanya ia telah ada di sana. Penampilannya kali ini jauh berlainan bersama penampilannya dikala kerja. Jeans & kaos ketat yg dipakainya menciptakan jakunku naik-turun. Macam Mana tak? Buah dadanya yg benar-benar gede seperti ingin loncat dari dadanya. Sepanjang perjalanan saya tidak bisa berkonsentrasi menyetir.

Pikiranku dipenuhi dgn ‘permainan’ sex yg dapat kami melakukan, pun kenikmatan yg sebentar lagi kurasakan. Tetapi saya pun agak takut apabila beliau menolak. Hasilnya saya belokkan mobilku ke arah hunian makan Kalasan buat pendekatan lebih dalam. Kami mengobrol tidak pasti arah bagai sepasang kekasih. Pula berkaitan ekonomi keluarganya yg morat-marit sejak ditinggal berangkat ayahnya. Bahkan selesai makan & saya membayar Rupiah 80.000,- dirinya agak terperanjat.

“Wah, sayang banget, Pak..! Makan demikian saja 80.000…”
“Memangnya mengapa..?” saya balik tanya.
“Ah, nggak sih. Aku menjadi ingat adik aku yg belum bayar SPP 3 bln.”

Saya baru mengerti bahwa biarpun dirinya tak kentara seperti orang sulit, tetapi sesungguhnya dirinya teramat tersiksa dgn jerat kemiskinan yg dialaminya. Saya menjadi tergugah mendengarnya.

“Memang berapa SPP adik anda sebulan..?”
“40.000” jawabnya pendek.

Saya keluarkan dompetku & memberikan Rupiah 200.000,-

“Nih, utk bayar SPP adik anda.”
“Nggak usah, Pak..!” ia bersikeras menolak.

Saya sedikit memaksanya & hasilnya ia menerima.

“Tapi, Bpk Ikhlas & tidak dengan pamrih..?”
“Iya..,” walaupun ada sedikit pamrih, kan tak bisa jadi saya ungkapkan, batinku dalam hati.

Sesudah makan, Saya mengajaknya ke pantai & duduk berdua ditemani riak gelombang & semilir angin yg menerpa wajah kami.

“Lin, bila sedang berdua begini, anda jangan sampai panggil ‘Bapak’. Panggil aja ‘Kakak’, ok..?”
“Eh, ya Pak. Eh.. ya Kak.”

Saya melingkari tanganku di pundaknya, dirinya nampak sedikit grogi.

“Jangan Kak, Linda malu..,” tangannya berikhtiar menepis tanganku.
“Tidak kenapa, kan nggak ada orang.”
“Tidak! Linda tak akan.”

Saya mengalah & cuma mengobrol saja.

“Memangnya anda belum sempat pacaran..?” tanyaku.
“Sudah, namun belum sempat sedikitpun Linda bersentuhan dgn si sayang Linda.”

Saya menangguk mengerti. Berarti perawan ini masihlah suci, otak iblisku segera berfikir keras.

“Sebentar ya, Lin. Kakak ingin cari minuman dahulu.”

Saya beranjak, & membeli 2 kaleng sprite di counter-counter yg tidak sedikit bertebaran di tepi pantai. Kukeluarkan serbuk perangsang yg kusiapkan dari hunian, & kutaburkan di minumannya.

“Lin, ini minumannya..,” saya menawari.

Tidak Dengan curiga sedikitpun Linda segera meminumnya. Saya tersenyum dalam hati. Tidak lama reaksinya mulai sejak tampak. Saya saksikan tubuhnya berkeringat.

“Kak, kepala Linda agak pusing. Pulang yuk..!”
“Baru jam 07 : 00, ntar aja yah..?”

Linda makin tidak sedikit meminum sprite yg telah kutaburkan serbuk, & bisa saja akibat terlampaui tidak sedikit Linda tidak sadarkan diri. Saya sedikit gugup. Saya serentak memapahnya ke Cottage terdekat. Saya diam sejenak memikirkan apa yg mesti kulakukan. Mumpung ia tidak sadar, saya langsung melepaskan kaos ketat yg dipakainya. Nampak branya telah tidak pass menampung buah dadanya yg agung & putih. Bulu ketiaknya amat lebat & hitam, kontras dgn kulitnya yg putih. Nafasku makin memburu terbawa nafsu. Kulumat bibirnya yg sensual, kuciumi lehernya, kupingnya & semua tubuhnya sampai Linda bugil tidak dengan sehelai benang serta melekat terhadap tubuhnya. Sambil melepas pakaianku sendiri, saya memandangi keindahan tubuhnya, terutama buah dadanya & kemaluannya yg teramat rimbun.

Sesudah sama-sama bugil, saya kembali mencumbunya, meski dirinya belum siuman & seperti orang mati namun saya tidak perduli. Kugunakan peluang ini dgn sebaik-baiknya. Putingnya yg kemerahan kulumat dgn rakusnya, kuhisap dalam-dalam. Lidahku menari-nari menelusuri keindahan lekuk-lekuk tubuhnya. Aroma ketiaknya yg khas tidak dengan parfum juga tidak luput dari ciumanku, hingga terhadap lipatan pahanya yg penuh bersama hutan rimbun. Lidahku menyibak rerumputannya, & terlihat segaris kemaluannya yg nampaknya tetap rapat. Lidahku tetap mencar-cari klitorisnya.

Sesudah ketemu, lidahku mengitarinya & kadang menghisap lembut, hingga saya sendiri telah tidak tahan & dgn kuat kuhisap klitorisnya. Saya terperanjat. Nyata-nyatanya rambutku tiba-tiba ada yg meremas kuat.

“Ahhh.., tetap Kak..!” Linda nyatanya telah siuman & mulai sejak merasa keenakan.

Saya makin semangat. Jari-jariku cepat bergerak ke arah buah dadanya & kupilin-pilin ke-2 putingnya, sementara lidahku makin asyik mendorong buat masuk ke liang kemaluannya. Tetapi sungguh sangat susah rasanya. Kemaluannya sama sekali ga ada lubang.

Linda makin merintih tak karuan. Dengan Cara reflek tangannya mencari pegangan. Kuarahkan senjataku yg telah meregang kaku ke jarinya, & Linda bersama kuatnya menarik senjataku. Saya merasakan kenikmatan. Percumbuan kami kian panas. Lumatan bibirku di bibirnya disambut dgn rakusnya. Kelihatannya Linda memang lah terpengaruh kuat oleh obat yg kuberikan. Bahkan beliau telah mengangkangkan pahanya & membimbing senjataku buat memasuki lembahnya, & menarik pinggulku supaya senjataku terdorong. Tetapi saya coba menahannya dikarenakan saya percaya Linda tetap dalam pengaruh obat. Saya menarik nafas panjang & menenangkan debar jantungku.

Linda konsisten memaksa… Saya makin bimbang. Bagaimanapun serta saya masihlah punyai nurani. Saya tak ingin merusak kegadisan orang, terlebih hingga merusak periode depannya. Saya kuatkan hati & bangkit dari lingkaran nafsu yg sudah membelenggu kami berdua. Saya ambil air segayung & menyiram kepalaku & kepala Linda. Nafsuku yg telah memuncak cepat drop, & Linda sendiri nampaknya sejak mulai sadar, & menutupi semua tubuhnya bersama selimut.

“Oh, apa yg berlangsung..?” Linda gugup, bangkit & memukul dadaku. Saya coba bersabar.
“Kakak jahat..” Linda makin kencang memukulku, saya merangkul tubuhnya.
“Sabar sayang, seluruhnya belum berlangsung.”
“Tapi badan Linda telah bernoda. Kakak kejam menjebak Linda.”
“Siapa yg menjebak Linda?”

Sesudah suasana agak reda, saya baru memaparkan kepadanya (pastinya berbohong) bahwa seluruh yg berjalan merupakan kehendak ia sendiri yg memancing gairahku. Bahkan saya malah yg menolaknya, & benar-benar Linda dalam kondisi setengah sadar & seperti bermimpi pula mengiyakan bahwa saya yg menolaknya.

Sejak kejadian itu Linda makin akrab denganku. Meski hasilnya dirinya tahu bahwa saya telah memiliki doi yg telah seperti istri, tetapi ia tak bakal melupakanku sebab saya yg perdana menjamah tubuhnya.

Nyata-nyatanya saya orangnya mudah kasmaran, namun mudah serta bosan. Jalinan yg makin erat dgn Linda & cuma sebatas (maksimal) oral, membuatku jenuh, sementara buat bertindak lebih dari oral saya tak berani sebab terbentur virginitas yg kuanggap masihlah butuh dijunjung walaupun cuma sekedar buat membuktikan pada suaminya bahwa ia mampu menjaga diri. Sebenarnya saya lebih gemar dgn Linda dari kepada pacarku yg sebentar lagi bakal married denganku, namun kan tak kemungkinan saya memalingkan seluruhnya hidupku pada Linda, sedangkan pacarku telah jalan nyaris 5 thn denganku.

Kesetiaan pula pengorbanannya telah memang lah teruji selagi kurun saat tersebut & jalinan kami telah seperti suami istri. Untunglah Linda juga mengerti & menyadari ide pemikiranku, sampai dengan cara perlahan Linda mulai sejak menjauh & memperoleh penggantiku. Walaupun hatiku pernah panas pun menyaksikan ia mesra bersama lelaki lain namun saya mesti iklas (Selamat berbahagia Linda).

Kembali saya menjalani kebiasaan kehidupanku sehari-hari yg teramat membosankan, sampai hasilnya saya menemukan sesuatu yg baru & memang lah baru dalam kehidupanku. Ketika itu saya sedang slow membaca iklan di harian Poskota buat menggantikan mobilku. Tidak sengaja saya menyaksikan iklan panti pijat & dari sekian puluh iklan, ada sekian banyak yg sediakan pijat husus utk perempuan dgn tenaga laki laki. Saya berpikir tentu ini iklan gigolo terselubung. Saya serta-merta mendapati rencana buat mengiklankan diri. Duit sanggup, sex bakal. Wah, tentu asyik. Hri itu serta saya segera pasang iklan dgn No. pager & Ponsel buat terbit besok.

Semalaman saya tidak bisa tidur memikirkan pengalaman baru apa yg dapat kualami besok, sampai tidak dengan sadar saya jatuh tertidur.

“Kring…” Nada weker di kamarku mengagetkanku.

Buru-buru saya mematikan dering weker yg senantiasa setia mengingatkanku utk patuh aturan dalam kerja. Saya duduk sejenak utk menyesuaikan badan & jiwaku ke alam pagi yg cerah. Saya teringat bahwa hri ini saya pasang iklan. Cepat-cepat kuaktifkan Mobile Phone & pagerku. Sekian menit kutunggu tiada yg masuk.

“Ah, mungkin saja tetap terlampaui pagi,” pikirku.

Memang Lah sih kini baru pukul 06 : 00 pagi. Tak kemungkinan ada orang yg perlu di ‘pijat’. Saya tersenyum sendiri & serentak menuju kamar mandi buat siap-siap ke kantor.

Dikala yg terjadi di kantor terasa lama sekali. Bisa Saja akibat saya terlampaui mengharap order masuk. Kurang Lebih pukul 10 : 00, melodi JIKA-nya Melly berkumandang di HP-ku. Saya saksikan sepintas nomer si penelpon tak kukenal.

“Hallo..,” sapaku seramah kemungkinan.
“La..! Macam Mana sih pesanan gua belum dikirim.”

Saya kaget setengah mati. Nyatanya yg ngebel ialah Pak Daniel kawan bisnisku yg paling akrab & menanyakan sikat gigi hotel pesanannya.

“Lho, Pak Daniel di mana..?”
“Gua lagi di hunian saudara nih. Macam Mana, udah ada informasi belum..?”
“Eh ya, besok kayanya baru dapat kirim. Itupun sore..!” jawabku.
“Yah wis, gua tunggu yah. jangan tidak sukses lagi..!”
“Iya! Beres boss!”
“Iya wis, thank’s yah..!”

Saya menjadi geli sendiri. Saya pikir ada ‘order’, tak tahunya order serta sih, tetapi bukan yg lagi kutunggu. Tidak lama gantian pagerku bergetar. Saya serentak membaca pesan yg tertera.

“Hubungi aku di 546xxxx. Aku tertarik bersama Kamu.” pengirimnya Ibu Ella.

Saya bersorak gembira & tidak buang disaat lagi, kuhubungi pula diwaktu itu dari lokasi kantorku.

“Hallo..,” terdengar nada perempuan di gagang telponku.
“Selamat siang. Mampu berbicara bersama Ibu Ella..?”
“Dari mana yah..?”
“Dari Rudy, Bu..!” (Oh ya saya iklan gunakan nama Rudy)
“Oh ya. Anda masihlah kuliah atau kerja..?”
“Saya telah kerja, Bu..!” jawabku sopan.
“Eh, janganlah panggil aku Ibu. Panggil aja Tante, ok..?”
“Iya, Tante.”
“Kamu udah lama menjadi pemijat..?”
“Baru ini kali, Tante..” jawabku jujur.
“Usia anda berapa..?”
“26, Tante.”

Obrolan kami makin ngalor ngidul, bahkan Tante Ella menanyakan size saya segala. Pokoknya seluruhnya data mengenai saya dikorek habis-habisan. & kayaknya beliau puas dgn data diriku. Bahkan ia sejak mulai terhubung data dia, bahwa dirinya yaitu istri seseorang laki-laki tajir raya yg memiliki tidak sedikit perusahaan. Hasilnya kami sepakat utk berjumpa di apartemennya (sewa atau beli saya tak tahu) di daerah Ancol, Jakarta utara.

Sesuai jam 11 : 00 siang saya ke luar kantor. Dgn argumen Instansi luar saya memacu mobilku. Hingga di lobi apartemennya, saya mencari-cari Tante Ella yg tuturnya memanfaatkan jeans, & kaos biru.Hingga mataku lelah memandang, saya belum bakal menemukan sosok yg kucari. Saya sejak mulai putus asa. Satu jam telah saya menunggu, tetapi baru saja saya beranjak dari bangku & mau pulang, pundakku ditepuk satu orang.

“Rudy, yah..?”

Saya berbalik, & nyata-nyatanya sosok yg kucari telah di depan mata. Celana jeans & kaos ketat biru. Namun alamakkkk. Wajahnya telah tidak sedikit keriput, kutaksir usianya 50-an. Kaos ketatnya tidak sedikit tonjolan-tonjolan lemak di pinggang & perutnya, & yg bikin saya shock orangnya pendek & gemuk.

“Kenapa, nggak gemar..?” nada Tante Ella menyadarkanku dari keterkejutanku.
“Ach, nggak. Tante kece,” ujarku melawan kata batinku.

Tante Ella mengajakku minum di tepi kolam renang yg sedia di apartemen situ. Obrolan kami ngalor ngidul, sementara saya mengusahakan tak membuatnya kecewa bersama segala kebohonganku.Hasilnya program puncak juga tiba. Tante Ella menggiringku memasuki apartemennya yg luas. Saya tetap bingung & seperti orang bodoh, sementara Tante Ella telah mengakses semua pakaiannya sampai bugil, & tengkurap di ranjang. Bersama tangan gemetar saya sejak mulai jalankan pijatan-pijatan lembut di pundaknya. Tetapi rupanya Tante Ella benar-benar niatnya ‘main’ dari awalnya. Maka Itu baru 2 menit saya laksanakan pijatan, tante Ella segera mengerjai tubuhku. Kemeja & celanaku telah melayang ke lantai, & sbg perempuan pass usia Tante Ella paham sekali mana daerah sensitif lelaki.

Sekarang Ini saya yg berbalik dipijatnya. Sapuan lidah Tante Ella yg basah di sekujur tubuhku membuatku lupa. Nafsuku yg tadinya drop perlahan sejak mulai bangkit. Senjataku yg telah tegang dilumatnya & tidak dengan permisi lagi Tante Ella serentak menaiki tubuhku & menduduki senjataku yg telah mengacung.

“Sleeep..,” senjataku memasuki liang kewanitaan Tante Ella.

Cukup seret. Kupejamkan mataku melamun bahwa yg berada di atasku merupakan Nafa Urbach, sementara Tante Ella makin ganas bergerak liar & menggoyangkan pinggulnya sambil menjilati dadaku.

“Ufh..,” nikmatnya luar biasa.

Saya coba berkukuh. & tidak lebih dari 10 menit seluruhnya badan Tante Ella seperti bergetar & mengejang melepaskan orgasmenya yg perdana.

“Accchh, Rud..,”

Tante Ella merebahkan tubuhnya di sampingku. Saya yg mau langsung menuntaskan hasratku memeluk tubuhnya. Tapi nafsuku mendadak drop kembali diwaktu bukti yg saya rasakan di tanganku tidaklah kencang & kenyal, namun lembek & penuh lemak. Nafsuku drop. Senjataku dengan cara perlahan mengecil kembali. Saya rebah di samping badan Tante Ella & memandang langit-langit sambil merenungi yg baru saja berlangsung.

“Tit…” pagerku yg berada di kantong celanaku yg berhamburan di lantai berbunyi sekali, pertanda ada pesan yg belum terbaca.

Saya langsung melompat dari ranjang & membaca pesan yg masuk.

“Saya tertarik dgn kamu, harap hubungi aku di 424xxxx dari Yenny.”
“Kenapa, Rud..? Ada order lagi yah..?” rupanya Tante Ella telah bangkit dari kelelahannya.
“Ah nggak, Tante. Kebetulan saja ada saudara aku yg lagi butuh bersama aku,” saya coba berbohong.
“Kenapa beliau nggak hubungi Mobile Phone anda..?”

Saya agak panik pula. Untunglah saya akan menguasai kondisi.

“Mungkin nggak bisa signal, Tante.”
“Maaf Tante, aku bisa saja nggak sanggup lama-lama. Aku mesti kembali ke kantor.”

Tidak Dengan meminta persetujuannya saya cepat mandi & cepat merapihkan diri.
Selesai merapihkan diri, kulihat Tante Ella tetap dalam kondisi bugil. Kelihatan sekali wujud tubuhnya yang… apa lagi waktu dirinya berlangsung & membawa sesuatu di tasnya.

“Nih utk anda Rud..!” Tante Ella rupanya membawa duit di Tasnya untukku.
“Nggak usah Tante…” saya coba menolak.
“Tidak apa-apa, Tante puas bersama permainan anda, Rud.”

Tante Ella memaksa & memasukkan duit tersebut di kantong celanaku. Sesudah berbasa-basi dapat menghubungi kembali & mengucapkan terima kasih, saya serentak bertolak & segera menuju parkiran, “Bebas telah saya,” pikirku.

Baru saja pantatku duduk di belakang setir, pagerku berbunyi kembali.

“Saya janda umur 35 thn, bersih, putih & sexy, harap hubungi aku di 08169xxxxx.”

Wah, ramai serta nih order, tetapi mengingat saya tidak sedikit kerjaan di kantor & saya takut ketemu yg seperti Tante Ella, saya cuekin pesan itu sementara & kembali ke kantor.Terus… (Seandainya tak salah dikala itu saya bakal 6 orang tante & 4 di antaranya seperti Tante Ella, yg 2-nya agak keren. Ada satu yg berdua dgn suaminya. Pokoknya memang lah pengalaman baru.)


TOP